SENJA YANG TERBUANG
Saat aku mengadah kelangit
terlihat cahaya terkubur dalam selaput putih
Mengantarkan kepanikan sebuah hantaran angin yang sepi
disanalah tercipta sebuah hayalan yang terbuang
kemanakah sebuah gurun tergantung di langit ?
ataukah .......................sang penguasa jagat kehilangan cahaya ?
Aku terdiam bisu tak terduga......
menyentak sebuah hayal yang telah sirna dan terbuang jauh pada lorong kecil nanpenat
Kembali ku torehkan cahaya ke pada sebuah mimpi yang hilang...
kucoba melirik dunia yang pernah hilang....
tapi sesuatu membungkam detak jantung yang tergusur
Wahai langit keberadaban apakah yang kau inginkan terhadap bumi yang telah nestapa ?
Wahai langit benarkan engkau sudah tidak mau memahami bumi yang terbuang
Mungkinkah keadilan akan terjadi pada bumi yang terhempas...
mungkinkan keadilan dan ataukah kenistaan pada penduduk bumi yang saatnya berjaya..
lailaha ilallah
tiada tuhan selain allah
ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Mencari jejak yang kini hilang
Peradaban itu dulu pernah ada. Tapi kini telah menjadi sebuah bunga mekar yang menjadi dinding-dinding keajaiban maha pencipta..disanalah orang bergeming milikilah itu...tapi kini sebuah mimpi menabur pada sebuah keindahan yang tak pernah di tangani..
Jejak sang petualang kembali menapaki jalan penuh liku dan penuh rintangan. Pada sebuah landai terlihat sebuah kerikil tajam menopang tanah-tanah yang mudah runtuh..orang menganggap kerikil itu adalah sebuah ancaman bahkan mampu menjadi sebuah bencana..tetapi sang petualang tersebut menganggap bahwa itu bukanlah sebuah ancaman ataupun bahaya. Tetapi sebuah penopang kehidupan yang mampu melindungi orang untuk terhindar dari sebuah bencana...
Kulirik kesebalah timur dimana sang pencipta menggiring sebuah bulatan bundar yang mampu menjadikan manusia lebih bermakna. Disebelah timur tersebut terletak sebuah letupan tawa dan riang sang anak. Tawa itu muncul dibawah sang penopang yang orang lain menggap bahwa itu adalah bahaya tetapi bagi sang anak kerikil itu adalah lintasan kehidupan dan teman dalam sebuah ritme nyanyian menuju arah kedewasaan.
Orang selalu menilai sesuatu dari bahaya atau tidaknya sesuatu, tanpa melihat bermanfaat atau tidaknya benda itu....
